Tampilkan postingan dengan label Live Style. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Live Style. Tampilkan semua postingan

02 Januari 2012

Human perception “ a study on the role of built environmental quality for human wellbeing”

Ghoustanjiwani Adi Putra, Rizki Tridamayanti Siregar.
Student of Magister Program Bandung Institute of Technology, School of Architecture, Planning, and Policy Development,
Jl. Ganesha 10 Bandung 57102

Abstract this preliminary research has an objectives on examine the link of built environmental quality and human wellbeing, two cases study with Environmental quality differential were selected on the basis of living in the low class dwellings, a factual analysis and direct observation were used to assessed the quality of healty environment on mikro and makro assesment. while 30 respondents on two cases study were selected in cross-sectional interviews and were compared by both case study, by quantitative method we did find the significant differential perseption on humanwell that affect from their built environtment quality.
Keywords: environmental quality, human wellbeing, human perception.

1. Introduction
In academic disciplines such as landscape architecture, environmental psychology, and health geography, there has been a long history of interest in nature’s remedial effects on mental health and, more recently, in conceptualisations of it, for example: therapeutic landscapes as places to promote wellbeing (Gesler, 1992); or restorative nature assisting a recovery from fatigue (Attention Restoration Theory: Kaplan and Kaplan, 1989) and stress (Psycho-evolutionary Theory: Ulrich, 1983)1. Nature’s composition also determine quality of built Environment, Characteristics of the built environment can directly influence mental health2. In addition to direct effects, the built environment can indirectly impact mental health by altering psychosocial processes with known

03 Juni 2011

Road to Yogyakarta

pariwisata mampu mempengaruhi sebuah kawasan dalam lingkup kota untuk merubah tipologi dan citranya, tipologi dan citra disini dapat dilihat bukan dari visual saja melainkan segi non visual seperti sosial kemasyarakatan, lifestyle, maupun adanya kultur baru yang berubah atau merubah, citra budaya dapat seketika luntur dan berubah dengan adanya perubahan gaya hidup kawasan akan adanya pariwisata, banyak sekali contoh kawasan di indonesia yang berubah fungsi dan tipologi bangunan asli kawasan tersebut sehingga mengahadirkan citra atau image baru karena pariwisata, sebut saja kota Yogyakarta, merupakan kota budaya dan kota pelajar di indonesia, jl. Dagen, Sosro Wijayan, Prawirotaman merupakan 3 kawasan yang dapat dikatakan kawasan yang berubah secara tipologi dan citra kawasan karena pariwisata.

Minggu 29 mei-1 juni saya berkesempatan mengunjungi Yogyakarta menghadiri seminar di Atmajaya, bersama 5 rekan saya, Monike Kusna, Danu D.H, Irma.S, dan Puspita D kami bertolak dari bandung pukul 07.00 pgi, tentunya tidak cuma jalan-jalan saja, kami menyempatkan survei ke 3 kampung antara lain Dagen, Sosrowijayan, dan Prawirotaman yang yang sengaja dipilih sebagai tempat menginap.
kiri ke kanan (danu D.H, Monike K, saya (mangap), Puspita D, dan Irma (foto))

survei dan seminar
ini merupakan rangkaian kegiatan publikasi dari penelitian utama yaitu Hunian Tradisional dan Pariwisata: Transformasi Tipo-morfologi di Bali dan Betawi , dan didanai oleh SAPPK ITB, KK PP. tentunya kita tidak menginginkan pulang dari yogyakarta hanya membawa tentengan tas belanja saja kan? (walau saya tidak belanja ...hehehehe), paling tidak dapat bahan buat nulis blog atau sekedar bahan penelitian kalo nantinya bisa di teruskan (amien..).
dari tiga kampung tersenut terlihat perbedaan yang sangat significant dari citra, suasana dan

Sastrowijayan (Sarkem dan sekitarnya..)
ketika mendengar kata sarkem tentunya tidaklah asing di telinga kita, singkatan pasar kembang, sebenarnya merupakan salah satu bagian dari Sastrowijayan dimana di identikan dengan layanan seks komersial (hehehehe), keunikan kampung sosrowijayan adalah dari pemandangan sosio kultur yang cukup kontras dimana membaurnya penduduk sekitar dengan wisatawan asing dari seluruh penjuru dunia, berberapa hunian di kampung ini di sulap menjadi losmen murah meriah, indekos, motel, kafe, wartel, gerai batik, gerai jajanan khas Yogya maupun layanan-layanan lain, aura multiple culture dapat dirasakan disini, dimana banyak sekali akulturasi budaya sekitar dengan budaya asing. plakat-plakat petunjuk arah maupun baliho reklame dengan 2 bahasa, dimana memungkinkan wisatawan asing singgah dan menarik wisatawan. secara sekilas sosrowijayan sama dengan gang-gang kecil di di berberapa kota di indonesia, tetapi bila diamati lebih seksama nilai kultur dan sosial lebih terasa disini, apalagi bila menjelang malam hari, sosrowijayan tak ubahnya hiruk pikuk kota kecil yang tidak pernah sepi, semakin malam semakin ramai dengan kultur budaya yang bervariasi.

jl.Dagen
jalan dagen merupakan ruas jalan yang berujung pada jalan Malioboro. dimana jalan ini memiliki cabang-cabang gang kecil yang merupakan kawasan hotel, losmen, wisma, pedagang kaki lima berupa angkringan, berberapa panganan dan jajanan khas yogyakarta seperti bakmi Yogya, tongseng, angkringan dll. kawasan ini merupakan kawasan yang padat dengan ampetop bangunan yang tinggi di sisi kanan-dan kiri jalan, sepadan jalan tidak lagi begitu di perhatikan disisi jalan Dagen ini, perubahan akan citra dan tipologi terlihat jelas di kawasan jalan ini, dimana dilai originalitas bangunan hilang dengan tumbuhnya tuntutan gaya hidup pariwisata dengan kultur budaya western, tapi ada juga berberapa hunian maupun losmen yang masih berusaha menampilkan budaya Jawa.

Prawirotaman
Prawirotaman berasal dari kata perwira utama, daerah ini merupakan daerah untuk strata sosial menengah keatas dimana dulunya kawasan ini merupakan kawasan hunian bagi perwira dan tentara kesultanan Yogyakarta. seiring berjalanya waktu kawasan prawirotaman mengalamai perubahan karena pariwisata di yogyakarta, dimana berberapa hunian di wariskan secara turun temurun dan dijual, kawasan ini lebih tenang dan teratur dibandingkan di JL. Dagen dan Sosrowijayan, walaupun hampir seluruh hunian berubah fungsi menjadi kafe, losmen, wisma tamu, home stay, workshop batik, pada pukul 22.00 sudah sangat sepi, kami menginap di salah satu wisma di kawasan ini yaitu di Kampoeng Djawa Guest House.

15 Mei 2011

Teknologi Vertical Garden : Sustainable Design atau Hanya Sebuah Trend dalam Urban Life Style ? *

Ghoustanjiwani A.P, Rio Kusmara, Wahyu Yanuar

Mahasiswa Jurusan Arsitektur , SAPPK, Institut Teknologi Bandung

Abstrak

Sustainable design merupakan sebuah produk desain yang berprinsip pada konsep keberlanjutan, dimana faktor lingkungan, sosial dan ekonomi merupakan 3 aspek penting dalam konsep sustainability. Salah satu upaya dalam menciptakan desain sustainable dalam arsitektur terkini adalah dengan menggunakan teknologi vertical garden. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan baik dalam skala ruang, bangunan dan skala kawasan atau kota, dalam skala ruang teknologi ini mampu menurunkan temperatur hingga tercipta kenyamanan thermal yang baik, dalam skala bangunan dapat berfungsi sebagai barier panas matahari karena berfungsi sebagai secondary skin pada fasad bangunan, hingga cukup berperan dalam mengurangi efek dari fenomena urban heat island (UHI) pada kawasan atau kota karena dapat berfungsi sebagai pengganti ruang tata hijau kota (RTH) secara vertikal yang dikarenakan keterbatasan lahan. Keterbatasan lahan perkotaan seperti di Jakarta dan Bandung yang menyebabkan tingkat kepadatan bangunan yang tinggi membuat penggunaan teknologi vertical garden sebagai taman tegak di lahan yang terbatas menjadi salah satu alternatif desain dalam peningkatan kualitas hunian tetapi dirasa kurang tepat karena teknologi terbaru ini dinilai mahal dalam biaya instalasi dan perawatannya, sehingga Teknologi Vertical Garden lebih pantas dikatakan sebagai trend berkebun terbaru untuk kalangan menegah ke-atas. Beberapa studi kasus dalam paper ini memaparkan sejauh mana teknologi vertical garden mampu diterapkan di indonesia dan menilai penerapan teknologi ini kurang bisa dianggap sebagai desain yang sustainable karena kurang memperhatikan aspek ekonomi dari konsep sustainability. Sehingga dapat dikatakan teknologi vertical garden yang ada di Indonesia saat ini hanya merupakan trend dalam urban life style.


Kata kunci :Vertical Garden, Urban heat island (UHI), Sustainaibility, sustainable design, Urban Live Style.


Pendahuluan

Teknologi Vertikal Garden merupakan sebuah teknologi yang mampu mengurangi efek polusi udara, menurunkan temperatur ruang secara langsung, dimana dapat menjadi sebuah srtategi terbaru dalam mengurangi efek dari fenomena Urban heat island, diperlukanya sebuah pemahaman dan penerapan Teknologi terbaru berupa Vertikal Garden ini untuk lebih memahami teknologi ini. Perubahan dari gaya hidup urban merupakan salah satu sebab dari adanya teknologi ini dimana masyarakat urban dengan pola tinggal yang berubah secara vertikal dan kebutuhan berkebun secara vertikal merupakan salah satu upaya dalam mengganti kebutuhan berkebun secara horisontal yang membutuhkan lahan lebih besar.
Vertikal garden atau bisa di definisikan sebagai dinding vegetasi, fasad hijau, vegetasi vertikal dan sering dikenal sebagai green wall merupakan salah satu teknologi desain yang dikenal luas pada 1994 melalui karya-karya ahli botani Prancis, Patrick Blanc.

“The Vertical Garden allows man to re-create a living system very similar to natural environments. It‟s a way to add nature to places where man once removed it. Thanks to botanical knowledge, it‟s possible to display natural-looking plant landscapes even though they are man-made.” (Blanc, 2008)

instalasi vertical garden
sumber : http://www.vertigarden.co.uk/index.html

Keterkaitan vertical garden terhadap sustainable dan livestyle urban.

Keterbatasan lahan hijau di perkotaan besar kususnya seperti Houston dan jepang merupakan kota besar dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi dimana ruang hijau diperlukan tidak lagi secara horisontal, perubahan gaya hidup masyarakat dengan kebutuhan lahan parkir secara Horisontal tidak lagi diberlakukan di kota-kota besar seperti Houston, parkir vertikal merupakan salah satu imbas dari lifestyle masyarakat urban yang berubah karena keterbatasan lahan parkir, padahal kendaraan bermotor dan mobil mengeluarkan energi panas terbesar dalam bangunan, ruang dalam garasi umum akan lebih cepat panas dengan adanya pelepasan kalor dari energi panas kendaraan bermotor dan manusia, dengan Vertical garden pada bangunan garage di Houston ini, terbukti mampu memberikan kenyamanan dari segi estetika maupun kenyaman thermal, dimana energi panas, polusi dan partikel debu kotor di serap oleh vegetasi Vertical Garden.

Penerapan Vertical Garden di Indonesia.

suber : http://www.trisigma.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=26&Itemid=30

Penggunaan teknologi vertical garden di Indonesia masih sangat terganjal dengan tingginya biaya yang disebabkan media tanam yang masih di impor. di beberapa kota besar di Indonesia sudah terlihat penggunaan teknologi vertical garden pada bangunan, sebut saja kota Jakarta dan Bandung, yang pada dasarnya memiliki kepadatan yang cukup tinggi dengan lahan yang semakin sedikit, dan banyaknya bangunan industri serta transportasi yang menyumbangkan emisi CO2, ditambah lagi penggunaan material-material bangunan dan jalan yang merupakan kolektor panas menjadikan kedua kota ini memiliki lingkungan yang panas.


Keterkaitan vertical garden terhadap sustainable dan livestyle urban.


Namun beberapa contoh bangunan yang menggunakan teknologi vertical garden di Indonesia seperti bukan ingin menyelesaikan masalah lingkungannya, namun lebih kepada urban life style. Bangunan yang menggunakan teknologi ini merupakan bangunan komersil. Hal seperti ini wajar terjadi, dimana dengan rata-rata tingkat pendapatan yang rendah masyarakat Indonesia belum mampu untuk menggunakan teknologi yang begitu mahal, teknologi yang hanya mampu digunakan oleh kalangan menengah ke atas sebagai gaya hidup atau trend jaman. Dimana hanya menjadi trend berkebun yang berbeda bagi kalangan atas yang ingin memiliki taman dengan lahan yang terbatas namun kurang menyelesaikan masalah lingkungan yang sebenarnya berdampak pada siapa saja. Penggunaan vertical garden mungkin dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan lingkungan di kota dengan tingkat emisi yang tinggi apabila penggunaannya tepat dan biaya pemasangan yang terjangkau, sehingga dapat diterapkan oleh semua kalangan.


* full paper akan di publikasikan pada buku Proceeding Seminar Nasional SCAN#2:2011 dan di presentasikan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

24 Oktober 2010

Road to kampung Narawita

dijual tanah dengan luas 18 ha di narawita di cicalengka bandung Jawa Barat @m 45.000 berminat ? hub ghoustan di 085646538065 masih bisa nego loh


Walau susana kampus lagi UTS saya menyempatkan bertemu dengan pak Budi Fathony mantan dosen S1 saya di ITN Malang, beliau berencana mengambil studi lanjutan S3 di ITB, selain itu pak budi juga mempunyai kepentingan lain yaitu menjual tanah di dusun narwita Cicalengka, pada hari minggu pukul 8 pagi kami berangkat, memerlukan 3 jam perjalanan, desa Narawita di kecamatan Cicalengka Bandung Jawa Barat, Bertolak selama 3 jam perjalanan ke arah timur Bandung.

hampir di tiap sudut desa memiliki saung untuk industri batu bata.

pertama kali sampai di dusun ini saya heran dusun ini merupakan daerah penghasil batu bata, tapi kenapa penduduk sekitar memilih mendirikan rumah dengan kayu dan pondasi umpak, sepertinya memang pada dusun ini masih sedikit memiliki toleransi terhadap kearifan lokal berberapa rumah menggunakan kayu dan bambu sebagai material utama dari rumah mereka, walau tidak ada pengaturan dan norma-norma sosial dan preservasi budaya secara ekstrem seperti kampung naga, tetapi desa ini memiliki sedikit apresiasi nilai kearifan lokal.


nisan-nisan batu yang terdapat di halaman rumah penduduk desa

ketika menelusuri salah satu rumah ..oh nama ibu yang punya rumah adalah Bu Eis..saya sangat terkejut ketika mendapati hampir di tiap halaman rumah di desa ini terdapat nisan-nisan batu yang tersusun rapi, awalnya saya tidak menyadari ini adalah kuburan dari tiap anggota keluarga mereka, saya penasaran dan akhirnya bertanya pada Bu Eis, Bu Eis bilang memang sebagian besar masyarakat mengubur keluarga di halaman rumah, hal ini dikarenakan tidak ada tanah wakaf desa....hmmm

potensi besar ada di desa ini selain memiliki view yang menarik, dingin dan untuk peluang usaha sangat menjanjikan sekali dimana tanah dari desa ini mengandung tanah liat untuk usaha batu bata dan bahan keramik. ketika kami pulang Pak Budi menyempatkan membawa sampel tanah untuk di teliti, menurut beliau tanah di kampung ini sangat berpotensi sebagai bahan dasar pembuatan keramik.